Home Artikel Aida Nurainun : Guru K3 Finger Print Style

Aida Nurainun : Guru K3 Finger Print Style

0
SHARE
Aida Nurainun, S.Ag (tengah) bersama para siswi MAN 2 Cipondoh Kota Tangerang

​GURU K-3 Finger Print Style
Oleh ; AIDA NUR’AINUN, S. Ag

Guru Bahasa Arab Madrasah Aliyah Negeri 2 Cipondoh kota Tangerang

Guru K13 sering diidentikkan dengan tumpukan berkas laporan KBM, laporan portofolio diri, maupun pemberkasan untuk keperluan adminiatratif. Ironi kemudian, Guru K13 juga identik dgn guru finger print. Selain dituntut menyajikan pebelajaran yang inovatif sesuai tema, tanggungjawab berikutnya adalah selalu ada dilingkungan sekolah minimal 8 jam walau tidak ada jam mengajar.

Semula sistem finger print dipakai dalam manajemen dunia usaha dan bisnis, sekarang sudah merambah ke dalam sistem manajemen sekolah serta dunia pendidikan secara luas. Kemudian, perlahan tapi pasti, finger print menjadi primadona bagi guru di sekolah, terlebih bagi guru yang berlabel pegawai negeri sipil (PNS) dan guru tetap yayasan.
Rupanya, terlepas dari aspek kualitas dan aspek profesionalitasnya, aspekaspek adminiatratif semisal disebut diatas menjadi momok “menakutkan” bagi sebagian guru, semisal guru harus menyelesaikan beban kerja nya dalam hitungan hari.

Sejatinya, banyak nilai positif menjadi Guru K13, aktivitas kehadiran 8 jam di sekolah diharap dapat meningkatkan kehidupan sosial yang harmonis antara civitas di sekolah, tugastugas administratif yang menjadi beban reguler dapat tercover secara maksimal, serta dapat mengontrol aktivitas belajar siswa. Selain hal tersebut, kebutuhan akan finger print dianggap sebagai mesin pencatat loyalitas guru.

Melihat romantisme guru era 80an, nampak perbedaan mencolok dengan guru kekinian, baik dari aspek sakralitas nya, nilai educandum nya, maupun dari aspek pendapatan nya. Dahulu guru merupakan tokoh sentral yang amat sakral, tidak sedikit siswa merasa “panas dingin” ketika berhadapan dengan guru.

Saat ini, terjadi hal sebaliknya, tidak sedikit guru yang merasa “panas dingin” saat menghadapi siswa siswi nya, Guru K13 merasa sudah sangat lelah dengan tugas administratif, terlebih dengan bayangbayang HAM atau jerat hukum yang mulai merambah ke dunia pendidikan.

Dahulu, gaya guru dalam mendisiplinkan siswa tidak pernah merasa dihantui oleh soalsoal hukum, pengadilan dan kepolisian, Sekarang, hukum dan pengadilan sudah masuk ke ranah dunia pendidikan, suatu loncatan kultur yang dapat mengkebiri kreativitas serta fleksibilitas peran dan tugas guru di sekolah.

Namun, problematika tersebut tidak harus merubah nilai eksistensi dan penyebutan nya sebagai guru, guru dahulu dan guru sekarang seharusnya tidak kehilangan ruh nya sebagai “pendidik”. Terlebih guru saat ini sudah mendapatkan jaminan sertifikasi sesuai Undang-undang No. 14 tahun 2005, jaminan dana BOS yang disediakan pemerintah, serta jaminan uang insentif guru dari pemerintah daerah setempat, hal tersebut selayaknya menambah motivasi dan gairah dalam menuntaskan tugastugas keguruan nya.

Sejatinya, menjadi guru haruslah bermula dari niat terdalam, yakni citacita progressif yang lahir sebagai bentuk totalitas pengabdian, keinginan untuk mengaktualisasikan potensi diri demi kemashlatan umat di masa depan. Profesi guru bukanlah “tangga darurat” yang dipakai saat keadaan emergency, bukan juga jalan pintas akibat sulit nya cari pekerjaan. Ada variabel pengikat yang tidak bisa diabaikan oleh guru, yakni fungsi nya sebagai pendidik.

Fungsi ini memiliki nilai yang lebih besar dibanding fungsi lainnya, mendidik berarti mengajarkan kepada anak didik nilainilai kebaikan dan akhlaq, mencontohkan kepada anak didik tentang etika berkehidupan, serta memberikan bimbingan kepada anak didik dengan sabar dan ikhlas untuk membentuk karakter siswa yang paripurna/insan kamil.

Mendidik tidak hanya terpusat di sekolah saja, namun berkelanjutan sampai dilingkungan sosial anak baik di rumah maupun di tempat bermain nya. Sungguh sebuah perilaku mulia menjadi guru, profesi yang saat ini dianggap sebagai profesi biasabiasa saja dibanding profesi lainnya semisal profesi dokter, pengacara, usahawan, dan lain sebagainya.

Umum nya guru fokus pada aspek pengajaran nya saja, mendesign pola pengajaran dalam usahanya mentransformasi ilmu pengetahuan kepada anak didik, menuntaskan kurikulum satuan pengajaran, kemudian menyelsaikan jam pelajaran, sampai akhir nya menuju tempat finger print diletakkan.

Tugas pokok tersebut akan menjadi lebih “sempurna” jika dibarengi tugas nya sebagai pendidik, semisal memberi contoh perilaku dalam berpakaian, performance guru menjadi daya tarik sendiri bagi siswasiswi. Kemudian, komunikasi verbal juga sangat vital dalam komunikasi seharihari di sekolah, cara bertutur kata guru dalam berinteraksi sosial dengan siswa atau sesama guru, mengindikasi sebuah proyek pendidikan yang berperadaban. Guru juga dituntut mampu menjadi pendamping siswa dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup nya.

Dua fungsi guru sebagai pendidik dan pengajar melekat secara alamiah serta menjadi faktor pengikat disetiap zaman dan waktu. Termasuk juga fungsi guru K13, selayakanya terfokus pada peningkatan volume aspek “pendidikan”. Mengingat, era dan masa kekinian yang sarat polusi teknologi, siswa siswi membutuhkan serangkaian bimbingan tentang etika dan estetika hidup.

Selayaknya pendidikan lebih diarahkan kepada proses alih nilai (transfer of value) bukan sekedar proses alih budaya dan alih pengetahuan (transfer of knowledge). Artinya bahwa, pendidikan adalahh proses pengembangan dan pembentukan kepribadian dalam rangka ninternalisasi nilainilai budi pekerti kepada siswa.

Sesuai dengan amanat Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003, tujuan pendidikan nasional sangat kental dengan pembentukan karakter anak, maksudnya adalah semua proses pendidikan dan pengajaran di sekolah mengarah kepada pembentukan akhlaq dan budi pekerti.

Namun menerapkan tujuan pendidikan tersebut sangat lah sulit, selain membutuhkan contoh teladan dari guru, juga memerlukan strategi yang terukur. Siswa selain dibekali pengetahun yang baik (moral knowing), juga harus merasakan sesuatu yang baik atau loving good (moral feeling) serta perilaku yang baik (moral action) dari orang yang lebih dewasa.

Proses mendidik tersebut bertujuan untuk mencapai kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan, baik dalam bidang ekonomi, sosial, politik, ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya. Chabib Thoha, “Mencari Format Pesantren Salaf”, dalam Majalah Bulanan Rindang No. 9 menyatakan bahwa nilai fundamental ini didasarkan pada:(1) komitmen untuk tafaquh fi ad-din, nilai-nilai untuk teguh terhadap konsep dan ajaran agama; (2) pendidikan sepanjang waktu (fullday school); (3) pendidikan integrative dengan mengkolaborasikan antara pendidikan formal dan nonformal (pendidikan seutuhnya, teks dan kontekstual atau teoritis dan praktis; (5) adanya keragaman, kebebasan, kemandirian dan tanggungjawab; dan (6) pengajaran hidup bermasyarakat.

Keenam nilai pendidikan menandai sebuah falsafah kelembagaan yang bertujuan pengembangan potensi diri anak secara optimal.

Atas dasar itu, pendidikan di sekolah bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu, guru K13 seharusnya berorientasi kepada penanaman kebiasaan (habituation) tentang hal mana yang baik sehingga siswa menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik, dan biasa melakukannya (psikomotor).

Pada akhirnya menjadi guru saat ini yang berorientasi kepada Kurikulum 2013 atau istilah yang penulis gunakan Guru K13, sarat dengan tantangan, satu sisi Guru K13 harus menuntaskan beban administratif dan di sisi lainnya guru K13 harus pula menghasilkan siswa yang berakhlaq serta berbudi pekerti baik. Namun, semua beban itu menjadi sangat ringan jika profesi guru adalah pilihan hidup sejak awal, bukan sekedar tangga darurat atau jalan pintas demi memenuhi tuntutan ekonomi. Wassalam.