Home Nasional Seminar APPERTI: Tantangan Perguruan Tinggi di Era Digital Distruption

Seminar APPERTI: Tantangan Perguruan Tinggi di Era Digital Distruption

0
SHARE
Para Narasumber Seminar Nasional APPERTI. Foto : Aries Sundoro

Tangerangpos.com,Jakarta – APPERTI (Asosiasi Penyelenggara Perguruan Tinggi Indonesia) mengadakan Seminar Nasional dengan tema ” Tantangan Perguruan Tinggi di Era Digital Distruption “, Jum’at (5/1/17) bertempat di Universitas Yarsi Jl.Letjend.Surapto Cempaka Putih Jakarta Pusat.

Hadir sebagai Narasumber, Dr. Rizal Ramli (ex.MENKO EKUIN, MEN.KEU), Dr. M.Budi Djatmiko,SEI, MEI. (Ketua APTISI),Prof.Dr.dr. Jurnalis Uddin, PAK (Ketua APPERTI),Dr. Dino Patti Djalal (Ketua Umum Asosiasi Dosen Indonesia),Dr. Ary Ginanjar Agustian (Direktur ESQ 165) dan dipandu oleh moderator Dr. Taufan Maulamin, SE,Ak,MM.

Hadir pada acara tersebut, Marzuki Alie (Mantan Ketua DPR RI), Pengurus APPERTI, Perwakilan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perwakilan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Jakarta maupun daerah, dan tamu undangan serta sekitar 200 peserta seminar sangat antusias mengikuti hingga tuntas.

Acara dibuka dengan pemukulan gong oleh Ketua APPERTI, dalam sambutannya Prof.Jurnalis Uddin, mengatakan Perguruan Tinggi di Indonesia harus berubah, tidak hanya terfokus pada formalitas seperti akreditasi atau sekedar mengejar angka sertifikasi dosen saja, yang lebih utama adalah membangun budaya akademik.

“tidak serta merta Indonesia akan masuk Perguruan Tinggi yang diakui dunia (World Class University) kalau budaya akademik tidak dibangun, itu tidak bisa instan, perlu proses,” ucapnya.

Jurnalis menambahkan PTN seharusnya lebih fokus pada penelitian dan publikasi bukan hanya pendidikan saja.

“fokus pada penelitian dan publikasi,”tegasnya.

Di kesempatan sama dalam paparan materi yang diberikan Dr. Rizal Ramli menjelaskan perekonomian Indonesia saat ini tumbuh dengan prosentase rata rata pertahunnya berkisar antara 5-6%.

“berdasarkan angka tadi kalau ditinjau dari pendekatan histories kita mengalami banyak kemajuan tapi apabila ditinjau dari pendekatan komperatif, kita jauh tertinggal dengan negara negara tetangga,” Paparnya.

“Untuk itu kita harus berubah, kita harus menjadi pemimpin asia, apabila pertumbuhan ekonomi rata rata dapat mencapai 10-12%,” harapnya.

Sementara itu Ketua APTISI, Budi Djatmiko mengatakan saat ini kita butuh “Revolusi Pendidikan”, mengapa?…karena Indonesia selama ini dipimpin oleh Presiden yang pertama sampai terakhir tidak mengutamakan SDM, dilihat dari anggaran pendidikan yang jumlahnya 20%, untuk Perguruan Tinggi sekitar 100 Triliun, dibagi 2, yaitu untuk PTN sebanyak 150-175 PTN sebesar 93 Trilliun sedangkan untuk PTS sebanyak 4.150 PTS, hanya sebesar 7 Trilliun.

“Indonesia tidak akan pernah maju kalau PTS nya tidak diberikan kebijakan yang lebih bagus lagi, serta Pemerintah harus mempersiapkan regulasi sedangkan Perguruan Tinggi mempersiapkan SDM,” pungkasnya.

Dino Patti Djalal, menyampaikan Perguruan Tinggi harus siap menghadapi “Distruption Digital Technology”, akan ada banyak pekerjaan yang mulai digantikan dengan robot.

“Perguruan Tinggi harus mempunyai kepedulian, kreativitas, inovasi, dalam menghadapi tantangan ini,” jelasnya.

Sementara Ary Ginanjar mengatakan dizaman sekarang orang tidak perlu masuk Perguruan Tinggi kalau mau belajar ilmu tertentu, bisa ikut kuliah dimana saja. Banyak kelas yang berkualitas dari kelas di Perguruan Tinggi didunia maya.

“Perguruan Tinggi harus bisa menawarkan apa yang tidak bisa ditawarkan oleh pembelajaran online tersebut, sehingga dapat membangun insan berkaraker di Perguruan Tinggi menuju generasi emas Indonesia,” tukasnya.(Aries Sundoro)