Home Artikel Ade Noer Syahfitri : Ghouta Menunggu al-Mu’thasim

Ade Noer Syahfitri : Ghouta Menunggu al-Mu’thasim

0
SHARE
istimewa.

Ghouta Menunggu al-Mu’thasim

Oleh: Ade Noer Syahfitri (Aktivis Muslimah Jakarta Utara)

“Ghouta Timur, tempat di mana kami menyebut kain kafan karena pembantaian yang terjadi. Karenanya gorden pun dipakai sebagai kain kafan “dr. Shajul Islam

Berdasarkan jumlah kematian yang dikumpulkan oleh Observatorium Suriah pada tanggal 20 Maret 2018, sebanyak 1473 warga sipil Suriah tewas di Ghouta Timur selama 30 hari terakhir. Memiliki 301 anak-anak dan 185 wanita. (Sumber: Aljazeera)

Perang berkepanjangan yang dilakukan Pemerintah Assad ini lebih tepat disebut sebagai pembantaian massal. Penujukan rakyat sipil di rumah, sekolah, pusat medis, pasar, dan lokasi pertahanan sipil, yang merupakan pemusnah massa terhadap masyarakat Ghouta.

Apa yang dilakukan oleh dunia internasional tidak lebih dari solusi yang membuat Tangisan Ghouta lebih keras lagi.

Kesepakatan Astana yang digagas oleh Rusia, Turki, dan Iran dengan menyediakan empat zona de-eskalasi yang dianggap sebagai solusi. Namun sayangnya apa yang disepakati oleh ke-3 negara sponsor genjatan senjata yang dilanggar oleh masing-masing pihak. Di mana Rusia dan Iran yang sangat pro dengan pemerintah Assad sangat berbeda dengan Turki yang pro terhadap jabatan.

Begitupun dengan PBB yang tidak lebih dari pengemis bagi koalisi pro Assad.
Dan mungkin terlihat bahwa usaha mereka untuk menyelesaikan masalah tidak serius dan semakin tidak berarti. Karena masing-masing pihak memiliki kepentingan dalam melihat konflik di Ghouta Timur. Bagaimana Iran memiliki kepentingan untuk menjaga aliran Syiah di Suriah, Vladimir Putin, Rusia, Rusia, Rusia, Rusia, Rusia, Rusia, Rusia, Rusia, Rusia, Turki, Turki, Turki, ekonomi, ekonomi, ekonomi, ekonomi, ekonomi, ekonomi, ekonomi, ekonomi, ekonomi, ekonomi, ekonomi, politik Turki di Suriah Utara.

Lalu siapa lagi yang kita harapkan? Disaat dunia Internasional lebih pada kepentingan mereka. Masih tangisan dan orang kaum muslimin terus mengalir di Ghouta. Hari – hari mereka adalah untuk bersembunyi di bawah puing – puing reruntuhan disaat lokasi pengungsian menjadi target. Apa yang terjadi di Suriah ini dengan korban lebih dari 465.000 yang tewas dan lebih dari 12 juta warga Suriah Tempat mereka tinggal.

Apakah nyawa kaum muslimin sudah tak lagi berharga?
Dari Abdullah bin Amru dari Nabi SAW, Beliau bersabda: “sungguh lenyapnya dunia lebih ringan di sisi Allah dari muslihat muslim-”. (HR an-Nasaiy, at-Tirmidzi, al-Baihaqi).

Dalam riwayat dari Abdullah bin Umar ra, ia menuturkan: “Aku melihat Rasulullah SAW thawaf secara aktif dan bersabda: Alangkah dataranmu dan alangkah harumnya aromamu, alangkah agungnya engkau dan agungnya agungmu, dan demi Zat yang jiwa Muhammad ada di genggaman tangan -Nya, sungguh kehormatan seorang mukmin lebih agung di sisi Allah darimu, hartanya, darahnya dan agar kami hanya berprasangka baik tajam) ”. (HR Ibnu Majah)

Hadist tersebut yang sifatnya berharganya darah seorang muslim, namun kini apalah artinya. Apakah para penguasa muslim sudah lupa akan hadist ini atau tidak ingin mereka untuk berkuasa dan mencari orang-orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.

Ingatkah Anda bagaimana Kisah heroik Al-Mu’tashim. Pada tahun 837, al-Mu’tasim Billah menyahut seruan seorang budak muslimah dari Bani Hasyim yang sedang berjuang di pasar. yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi. Kainnya terlibatke pakuluasi saat sedang berdiri, terlihatlah sebagian auratnya.

Wanita itu adalah nama dari Khalifah Al-Mu’tashim Billah “waa Mu’tashimaah!” (Di mana saja wahai Mutashim… Tolonglah aku!)

Setelah mendapat laporan tentang pelecehan ini, maka sang Khalifah pun menurunkan ribuan pasukan untuk menyerbu kota Ammuriah (Turki). Orang meriwayatkan bahwa panjangnya barisan tentara ini tidak bisa diselesaikan dari gerbang istana di kota Baghdad ke kota Ammuriah (Turki), sehingga besarnya pasukan yang dikerahkan oleh khalifah.

Hanya untuk mencari seorang yang auratnya terlihat karena diganggu, seorang khalifah al-Mu’thasimirim perebutan berat pasukannya. Apakah al-Mu’thasim ingin mencari kepentingan? sama sekali tidak, yang diselamatkannya hanya seorang yang melakukan apa-apa di dunia ini tapi hanya seorang yang al-Mu’thasim sadar bahwa kelak akan dimintai pertanggungjawaban atasnya.

Tak lelahkah kita untuk terus menguntungkan pada kesempatan yang diberikan para kaum kuffar dan orang munafik pencari kepentingan. Perundingan, perjanjian, dan perjanjian yang berasal dari muka – saudara kita di Ghouta Timur.

Ghouta Timur, saat ini masih menunggu Sang Khalifah al-Mu’thasim datang kembali. Kapankah itu? Ya, tidak lain dan tidak ada yang merupakan gabungan dari kaum muslimin bersama-sama yang memiliki satu lagi dan satu perjuangan yaitu menegakkan kembali perisai kehidupan daulah khilafah Islamiyyah ala minhajin nubuwwah.

Wallahu’alam bishawab